CFD adalah instrumen kompleks dan memiliki risiko tinggi kehilangan uang dengan cepat karena leverage. 76% akun investor ritel kehilangan uang saat berdagang CFD dengan penyedia ini. Anda harus mempertimbangkan apakah Anda memahami cara kerja CFD dan apakah Anda mampu menanggung risiko tinggi kehilangan uang Anda.

CFD adalah instrumen kompleks dan memiliki risiko tinggi kehilangan uang dengan cepat karena leverage. 76% akun investor ritel kehilangan uang saat berdagang CFD dengan penyedia ini. Anda harus mempertimbangkan apakah Anda memahami cara kerja CFD dan apakah Anda mampu menanggung risiko tinggi kehilangan uang Anda.

IUX Logo
Mengapa BIS Memperingatkan Stabilitas Keuangan Global? Memahami Tiga Risiko Utama yang Disorot pada 2026

Mengapa BIS Memperingatkan Stabilitas Keuangan Global? Memahami Tiga Risiko Utama pada 2026

Menengah
Jul 02, 2026
Bank for International Settlements (BIS) mengidentifikasi tiga tantangan struktural yang dapat memengaruhi stabilitas keuangan global: meningkatnya utang publik, kerentanan pada lembaga keuangan non-bank, dan risiko inflasi. Pelajari apa yang disampaikan dalam laporan terbaru BIS serta mengapa isu-i

Pada akhir Juni 2026, Bank for International Settlements (BIS) menerbitkan Laporan Ekonomi Tahunan 2026, yang menguraikan sejumlah tantangan struktural yang berpotensi memengaruhi ketahanan sistem keuangan global dalam beberapa tahun mendatang.

Dalam laporan tahun ini, BIS menyoroti tiga area yang perlu mendapat perhatian khusus: meningkatnya utang publik, kerentanan di sektor keuangan non-bank, serta kemungkinan muncul kembali tekanan inflasi.

Menurut BIS, kombinasi dari faktor-faktor tersebut dapat mengurangi fleksibilitas para pembuat kebijakan dalam merespons guncangan ekonomi di masa depan. Alih-alih memprediksi krisis yang akan segera terjadi, laporan ini menyajikan penilaian terhadap berbagai risiko yang kemungkinan akan terus dipantau oleh pemerintah, bank sentral, dan pelaku pasar.

 


 

Peningkatan Utang Publik Tetap Menjadi Perhatian Utama

Salah satu tema utama dalam laporan ini adalah terus meningkatnya utang pemerintah di berbagai negara.

Menurut BIS, berbagai kebijakan fiskal yang diterapkan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk langkah-langkah untuk mendukung pemulihan ekonomi dan menghadapi berbagai tantangan global, telah berkontribusi terhadap meningkatnya tingkat utang publik di banyak negara. Di saat yang sama, suku bunga masih berada pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi, sehingga meningkatkan biaya pembayaran utang pemerintah.

BIS menyatakan bahwa perkembangan ini dapat mengurangi fleksibilitas kebijakan fiskal apabila pemerintah perlu memberikan dukungan ekonomi tambahan di masa mendatang. Besarnya dampak yang terjadi akan bergantung pada kondisi fiskal masing-masing negara serta situasi makroekonomi secara keseluruhan.

Tingkat utang publik terus dipantau oleh pasar keuangan karena dapat memengaruhi persepsi terhadap keberlanjutan fiskal, pasar obligasi pemerintah, serta nilai tukar mata uang.

 


 

Lembaga Keuangan Non-Bank Semakin Menjadi Sorotan

Laporan ini juga menyoroti semakin besarnya peran lembaga keuangan non-bank (Non-Bank Financial Institutions/NBFIs), termasuk hedge fund, dana pensiun, perusahaan asuransi, dan berbagai perusahaan investasi lainnya.

Menurut BIS, sebagian pelaku pasar di sektor ini menggunakan tingkat leverage yang relatif tinggi untuk meningkatkan eksposur terhadap pasar. Dalam periode tekanan keuangan, posisi dengan leverage tinggi mungkin memerlukan penyesuaian secara cepat, yang dalam kondisi pasar tertentu dapat mengurangi likuiditas pasar dan memperbesar pergerakan harga aset.

BIS mencatat bahwa perkembangan ini menunjukkan pentingnya memantau risiko stabilitas keuangan tidak hanya pada sektor perbankan tradisional, karena lembaga keuangan non-bank kini memainkan peran yang semakin signifikan dalam pasar keuangan global.

 


 

Risiko Inflasi Belum Sepenuhnya Hilang

Topik penting lainnya yang dibahas dalam laporan ini adalah inflasi.

Meskipun inflasi telah melambat di banyak negara dibandingkan dengan puncaknya pada tahun-tahun sebelumnya, BIS mencatat bahwa sejumlah faktor—termasuk perubahan kebijakan perdagangan, perkembangan geopolitik, gangguan rantai pasok, dan fluktuasi harga energi—masih dapat memengaruhi prospek inflasi.

Dalam berbagai skenario, perubahan ekspektasi inflasi dapat memengaruhi keputusan kebijakan moneter bank sentral. Namun demikian, keputusan kebijakan pada akhirnya akan bergantung pada berbagai indikator ekonomi yang tersedia pada saat keputusan tersebut diambil.

 


 

Mengapa BIS Menekankan Pentingnya Disiplin Kebijakan?

Salah satu pesan utama dalam laporan ini adalah pentingnya koordinasi antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter.

Menurut BIS, apabila kebijakan fiskal tetap bersifat ekspansif sementara bank sentral terus menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat untuk menjaga stabilitas harga, maka upaya mengendalikan inflasi dapat menjadi lebih menantang. Oleh karena itu, BIS berpendapat bahwa menjaga disiplin kebijakan di kedua bidang tersebut dapat membantu mendukung stabilitas makroekonomi dalam jangka panjang.

Pandangan tersebut merupakan bagian dari penilaian kebijakan BIS berdasarkan kondisi ekonomi global saat ini.

 


 

Apa Dampaknya bagi Pasar Keuangan?

Laporan BIS tidak menyatakan bahwa gangguan pasar akan segera terjadi. Sebaliknya, laporan ini mengidentifikasi sejumlah kerentanan struktural yang patut terus diperhatikan karena dapat memengaruhi pasar keuangan bersama dengan perkembangan ekonomi lainnya.

Dalam praktiknya, dinamika utang publik, tren inflasi, dan kondisi likuiditas pasar merupakan beberapa faktor yang umum dipantau oleh para pelaku pasar ketika menilai prospek ekonomi global. Di saat yang sama, kinerja pasar keuangan tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, termasuk rilis data ekonomi, keputusan bank sentral, perkembangan geopolitik, serta sentimen pasar secara keseluruhan.

 


 

Kesimpulan

Melalui Laporan Ekonomi Tahunan 2026, BIS menegaskan bahwa sistem keuangan global masih menghadapi berbagai tantangan struktural. Meningkatnya utang publik, kerentanan di sektor keuangan non-bank, serta dinamika inflasi yang terus berkembang merupakan beberapa area yang kemungkinan akan terus dipantau oleh para pembuat kebijakan dan pelaku pasar.

Bagi para pembaca yang mengikuti perkembangan ekonomi global, laporan ini memberikan wawasan yang berharga mengenai bagaimana sebuah lembaga keuangan internasional menilai potensi risiko terhadap stabilitas keuangan. Namun demikian, sebagaimana disampaikan oleh BIS, perkembangan ekonomi dan pasar keuangan di masa depan akan tetap bergantung pada berbagai faktor domestik maupun global yang terus berubah.